Menggambar Manga: Tulen atau Abal-abal?

Orang kadang-kadang mengira menggambar manga itu mudah, sekedar membesarkan mata, membentuk dagu lancip dan rambut terurai, maka jadilah manga. Namun yang tercipta kemudian adalah manga jadi-jadian. Lalu apasih yang membedakan gambar manga abal-abal dan yang otentik?








Manga sebagai seni garis (lineart)

Pada mulanya di Jepang, manga terbit di media cetak, dalam majalah kompilasi yang terbit mingguan, dengan menghemat biaya, hitam putih pada kertas koran , dan jika sebuah seri sukses, ia akan diterbitkan dalam beberapa chapter per volume, dalam buku tersendiri yang disebut  tankōbon (単行本, "independent/standalone book").

Karena teknik cetak raster (bulir-bulir hitam di atas kertas koran), para Mangaka (komikus manga) berusaha menggoreskan tinta dengan keindahan bermutu tinggi. Mereka menerapkan secara maksimal elemen-elemen senirupa yang bisa diterapkan. Bahkan mereka menerapkan contrapposto (counterpoise) pada sesuatu yang detail, yaitu pada goresan garis.


Manga sebagai bahasa visual

The celebrated “God of Manga” Osamu Tezuka commented on his process by stating, “I don’t consider them pictures… in reality, I’m not drawing, I’m writing a story with a unique type of symbol” (Schodt 1983:25).



 
(Bersambung)